Listrik, PLN, dan Ketahanan Pangan

“Dengan adanya suplai listrik dari PLN, banyak kegiatan usaha yang bisa diciptakan, sehingga membuka lapangan kerja bagi anak-anak muda di desa.”

-- Ir Jefri Rosiadi --

General Manager PLN Wilayah I Aceh

.

Manfaat listrik bagi kehidupan manusia cukup banyak. Antara lain, sebagai sumber penerangan, sumber energi, penghasil panas, sarana hiburan, penghasil gerak dan lainnya. Manfaat listrik sebagai penerangan, pada malam hari dijadikan sebagai energi untuk sumber penerangan lampu di rumah, di kantor, di jalan, di pasar, tempat hiburan dan lainnya.

Dahulu kala sebelum listrik PLN belum masuk ke desa-desa, penerangan lampu di rumah, masjid, meunasah, kedai, toko dan tempat usaha, tempat berdagang  dan lainnya, menggunakan lampu teplok dengan bahan bakar minyak tanah.

Seiring perkembangan teknologi, peran lampu teplok telah digantikan oleh lampu listrik dari PLN. Kehadiran PLN ini sangat membantu masyarakat, termasuk di pedalaman, karena harga minyak bumi terus melonjak, sehingga untuk mendapatkan minyak tanah semakin sulit dan harganya juga mahal.

Setelah listrik PLN masuk ke desa-desa, masyarakat sudah tidak lagi selalu bergantung beli minyak tanah untuk sumber energi lampu minyak tanahnya di rumah, di meunasah, di masjid untuk shalat berjamaah, di tempat usaha, restauran, cafe, tempat berdagang dan lainnya. Ini artinya, peran dan andil energi listrik dalam kehidupan masyarakat cukup besar, terutama dalam memberikan peneranagan lampu di rumah, di jalan raya pada  malam hari dan memberikan kemudahaan untuk melaksanakan pekerjaan.

Kerja menjadi efisien, efekif, dan ekonomis, apalagi  saat ini sudah banyak peralatan kerja yang menggunakan sumber energi listrik, mulai dari kompor listrik, mobil listrik, dan lainnya. Kerja pertukangan hingga keperluan memasak pun semuanya menggunakan tenaga sumber energi listrik.

General Manager PLN Wil I Aceh, Ir Jefri Rosiadi menyebutkan, untuk Aceh, dari 6.497 desa, hanya empat desa lagi yang belum masuk jaringan listrik PLN. Tiga dari empat desa itu berada di pedalaman Aceh Timur dan satu desa di Aceh Singkil.

Pada tahun ini, keempat desa itu diupayakan bisa  masuki jaringan listrik PLN, baik melalui jaringan interkoneksi yang sudah ada, atau memberikan bantuan genset untuk digunakan sebagai pembangkit listrik di empat desa tersebut, seperti yang telah di lakukan di sejumlah daerah kepulauan di Simeulue dan Pulau Banyak. “Target kita, seluruh desa di Aceh sudah masuk jaringan listrik PLN, paling telat pada akhir Desember 2019 nanti,” kata Jefri Rosiadi.

Program listrik masuk desa yang dilaksanakan pemerintah melalui PLN, menurut Jefri Rosiadi, sangat membantu dalam mengurangi angka kemiskinan dan pengangguran di desa. Dengan ada listrik, banyak kegiatan usaha yang bisa diciptakan sehingga tenaga kerja muda yang menganggur di desa bisa bekerja. “Tanpa listrik, kehidupan di suatu desa bagaikan ‘mati  suri’. Karena listrik membuat orang hidup jadi bergairah, inovatif, dan kreatif,” tutur Jefri Rosiadi yang didampingi Humas PLN Aceh, Teuku Bahrul Halid.

Listrik juga memberikan kesejahteraan bagi masyarakat, karena dengan adanya jaringan listrik PLN masuk desa, masyarakat menjadi rajin dan berbagai kegiatan berjalan, mulai dari kegiatan ekonomi, pendidikan, keagamaan, budaya, sosial olah raga di desa jadi hidup.

Listrik juga mendukung program ketahanan pangan untuk kedaulatan pangan. Dengan masuknya jaringan listrik ke desa-desa daerah sentra produksi pangan, berbagai komoditi produksi pangan bisa dikerjakan dan diusahakan. Misalnya dengan ada listrik ruang pendingin tempat pengawat buah-buahan dan sayur mayur bisa dilakukan, sehingga pada saat panen raya, buah dan sayur bisa di simpan di ruang pendingin.

Begitu juga dengan produksi beras. Listrik bisa digunakan untuk menjalankan mesin penggilingan padi. Tanpa jaringan listrik PLN, pabrik kilang padi di desa, bisa gulung tikar, karena mengoperasikan pabrik penggilingan padi menggunakan genset, biaya produksinya sangat tinggi, tapi dengan listrik PLN, biaya produksi jadi lebih ekomis.

Karena besarnya manfaat dan kebutuhan listrik bagi manusia, Jefri Rosiadi mengingatkan agar tenaga listrik digunakan secara hemat dan tepat. Terutama bagi pelanggan yang tarif listriknya masih diberikan subsidi. Daya listrik yang diberikan kepada pelanggan listrik berstatus kurang mampu memang rendah sekitar 450 watt, tapi karena jumlah pelanggannya banyak, anggaran subsidinya jadi besar.

Penghematan penggunaan listrik, kata Jefri Rosiadi, tidak hanya bagi pelanggan yang tarif listriknya masih diberi subsidi, pelaggan nonsubsidi juga harus hemat dan tepat sasaran, supaya daya listrik bisa disalurkan lebih merata.

Lhokseumawe Terbanyak

Jefri Rosiadi merincikan, total pelanggan listrik di Aceh saat ini sebanyak 1.452.140 pelanggan. Terbanyak ada di wilayah Lhokseumawe 432.812 pelanggan, kedua wilayah Kota Langsa 312.293 pelanggan, sementara untuk wilayah Kota Banda Aceh sebanyak 238.331 pelanggan.

Pemakaian dan kebutuhan tertinggi daya listrik di Aceh sekarang ini, menurut Jefri Rosiadi, mencapai 487,8 mega watt (MW). Dari kebutuhan tersebut, yang disuplai dari pembangkit listrik yang terdapata di wilayah Aceh, seperti dari PLMG Arun Lhokseumawe, PLTU Nagan raya sebesar 307 MW, kemudian ditambah pembangkit isolated/disel lokal sebesar 37,8 MW, sisanya sebanyak 143 MW lagi suplainya, dibantu dari pembangkit listrik di Sumut.

Saat ini, kata Jefri Rosiadi, masih ada pembangkit listrik di Aceh yang masih dalam tahap pekerjaan, yaitu PLTU Peusangan dengan target kapasitas daya listrik 84 MW, PLTMG Arun II Lhokseumawe 250 MW, PLTMG Krueng Raya, Aceh Besar sebesar 50 MW dan PLTU Nagan III dan IV kapasitas 200 MW, Panas Bumi Jaboi Sabang, 15 MW.

Setelah kelima sumber pembangkit listrik itu nanti selesai dibangun dan dioperasikan pada tahun 2022 mendatang, kata Jefri Rosiadi, Aceh sudah surplus daya listrik. Pada saat itu, kelebihan daya listrik dari daerah ini, disalurkan ke luar Aceh untuk membantu daerah-daerah tetangga yang masih kekurangan sumber daya listrik.(heri hamzah)