Fasilitas Pelabuhan Malahayati Semakin Lengkap

“Terus terjadi peningkatan volume pembongkaran di Pelabuhan Malahayati. Rata-rata kontiner yang dibongkar mencapai 800-1050 unit per bulan.”
 
-- Sam Arifin Wiwi --
General Manager Pelindo 1 Cabang Malahayati

 

 

PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) I saat ini fokus mengembangkan fasilitas di Pelabuhan Malayahati, Krueng Raya, Aceh Besar. Pengembangan yang dilakukan berupa perluasan tempat penampungan box (kontiner) hasil bongkar kapal dari 4000 meter saat ini menjadi 8000 meter. Selain itu juga melakukan renovasi dermaga atau jembatan pelabuhan.

Hal itu diungkap General Manager Pelindo 1 Cabang Malahayati, Sam Arifin Wiwi kepada Tim Tabangun Aceh yang berkunjung ke Pelabuhan Malahayati Krueng Raya Aceh Besar, Jumat (26/7/2019) lalu. Sam Arifin merincikan, untuk areal pelabuhan Malahayati melayani beberapa dermaga pembongkaran yaitu.

* Dermaga pembongkaran bahan bakar minyak maupun gas yang digunakan oleh PT Pertamina, rata-rata perusahaan tersebut  membongkar 10 -15 kapal per bulan dengan tonase 3000-5000 metrik ton.

* Dermaga pembongkaran semen curah maupun aspal curah, yaitu digunakan untuk melakukan pembongkaran semen dari perusahaan PT Semen Padang Indonesia. Sedangkan aspal curah dilakukan dari beberapa perusahaan untuk kebutuhan pembangunan di Aceh, rata-rata pembongkaran bahan curah ini dilakukan 2 sampai dengan 3 bulan sekali pembongkaran.

* Dermaga Utama yaitu membongkar kontiner (muatan kapal) dengan jumlah 800 sampai dengan 1050 kontiner dalam sebulan, rata-rata kapal 5 sampai dengan 8 kapal dalam sebulan.

Menurut Sam Arifin Wiwi, terus terjadi peningkatan volume pembongkaran di Pelabuhan Malahayati. Rata-rata kontiner yang dibongkar mencapai 800 – 1050 kontiner per bulan.

Areal yang diantar berdasarkan alamat si penerima juga terus melebar. Misalnya tahun 2018 barang yang masuk adalah milik pemesan dari Banda Aceh dan sekitarnya saja. Namun untuk tahun 2019, alamat penerima barang sudah sampai ke Lhokseumawe dan Meulaboh. “Ini artinya kepercayaan masyarakat terhadap jasa transportasi laut mulai meningkat di Aceh,” ungkap Sam Arifin.

“Selain lebih aman, transportasi laut juga lebih murah dan cepat. Karena itu kami selaku operator pelabuhan terus melakukan pembenahan untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat pengguna jasa pelabuhan,” tambahnya. 

Ditanya kendala yang dihadapi, Sam Arifin mengatakan, saat ini yang masih terasa adalah minimnya gudang tempat penyimpanan barang, sehingga terjadi penumpukan barang di lapangan (pelabuhan). “Oleh karena itu kami terus memperlebar lapangan punumpukan barang,” ungkap Sam Arifin Wiwi.

Saat ini ada dua perusahaan pelayaran transportasi laut yang melayari tujuan Malahayati secara rutin baru, yaitu PT. Salam Pacific Indonesia Line (SPIL) dan PT. Pelayaran Tempuran Emas Line Tbk  (TEMAS). Tidak tertutup kemungkinan ada perusahaan lain yang melirik malahayati jika aktivitas pelabuhan terus meningkat.

Barang yang dibongkar adalah barang dari Jakarta berupa barang kebutuhan rumah tangga seperti dari group Unilever, Bogasari, dan lain-lain. Sedangkan untuk aktivitas ekspor nyaris tidak ada, kecuali hanya sekali dalam tahun 2019 ini yaitu material pupuk alam (galian C) ke India satu kapal dengan tonase 31 ribu ton.

Sam Arifin Wiwi berharap pemerintah lebih aktif berkoordinasi dengan pengusaha di Aceh dan memberikan fasilitas-fasilitas pelayanan di bidang jasa transportasi laut.(cekwat)