Aceh Akan Bangun Jalan Yang Hilang

“Melalui dana APBN sudah disiapkan anggaran senilai Rp 100 miliar untuk memulai ini tahun 2020, dan tender proyeknya akan dimulai pada bulan Desember 2019 nanti.”

-- Iskandar MSc --

Staf Khusus Gubernur Aceh

 

Aceh boleh berbangga dengan kondisi infrastruktur saat ini. Penghargaan Indonesia Attractiveness Award 2019, menjadi bukti sahih pengakuan pihak luar terhadap infrastruktur Aceh. IAA 2019 diselenggarakan oleh Tempo Media Group yang bekerjasama dengan Frontier Consulting Group. Dua lembaga ini telah melakukan riset untuk Indonesia Attractiveness Index.

Riset ini melibatkan investor dan publik untuk memperoleh data mengenai daya tarik di sektor investasi, infrastruktur, layanan publik, dan pariwisata untuk tingkat kabupaten, kota dan provinsi di seluruh Indonesia.

Setelah melewati tahap penyaringan dan pengolahan data, melakukan survey, serta verifikasi data hingga tahap akhir yaitu penjurian, yang telah dilakukan tanggal 24-28 Juni 2019 terhadap 56 nominator kabupaten, kota dan provinsi. Tim juri memutuskan memberikan penghargaan Indonesia Attractiveness Award 2019 kepada Provinsi Aceh, Sebagai Pemenang Platinum Provinsi Sedang Kategori Infrastruktur Indonesia Attractiveness Award 2019.

“Terpilihnya Aceh sebagai pemenang di sini menunjukkan bahwa adanya potensi besar bagi Provinsi Aceh untuk dapat menarik minat para investor berbagai industri dan pelaku bisnis beragam sektor untuk turut memajukan perekonomian daerah,” jelas Iskandar MSc, Staf Khusus Gubernur Aceh.

Menilik kondisi di lapangan, infrastruktur jalan di provinsi Aceh memang terlihat berkembang pesat. Hingga ke pelosok desa pun jalan terlihat baik. Begitu juga halnya dengan infrastruktur jalan yang menjadi bagian proyek nasional dan proyek provinsi yang terus dikebut pembangunannya.

Satu di antaranya proyek pembangunan jalan nasional yang akan dimulai pembangunannya adalah ruas jalan Geumpang-Pameu sejauh 59,60 kilometer. Dan untuk tahun 2020 mendatang, sepanjang 10,4 kilometer akan dimulai pekerjaannya. “Melalui dana APBN sudah disiapkan anggaran senilai Rp 100 miliar untuk memulai ini tahun 2020, dan tender proyeknya akan dimulai pada bulan Desember 2019 nanti,” jelas Iskandar.

Pria yang pernah malang melintang di instansi Bappeda Aceh ini, menyebutkan jalur Geumpang Pameu ini adalah jalur yang “hilang” sehingga membuat jalur lintas tengah di Aceh ini menjadi terputus. “Ini adalah jalur missing link, dalam proses konektifitas jalan lintas tengah di Aceh, makanya dua jalur yang masuk missing link ini yakni jalur Geumpang-Pameu dan jalur Keumala-Jantho ini menjadi prioritas pembangunan infrastruktur di Aceh, yang akan menembus lintas tengah Aceh,” ujar Iskandar.

Jangan khawatir, ruas jalan memang ada yang melewati kawasan hutan, namun kini pemerintah Aceh sudah mendapatkan Izin Pinjam Pakai kawasan Hutan (IPPKH), sehingga proses pembangunan bisa dilanjutkan. Target kembali pembangunan infrastruktur pada tahun 2020 adalah dengan memprioritaskan pembangunan sarana untuk meningkatkan konektivitas antar-kawasan starategis di Aceh.

"Pembangunan infrastruktur Aceh 2020, memprioritaskan bangun 12 ruas jalan lanjutan di daerah, termasuk ruas jalan yang putus, itu, semua ruas jalan ini sudah ada badan jalannya tinggal diselesaikan saja," kata Iskandar.

Disebutkan, 12 ruas jalan yang menjadi prioritas pembangunan adalah, ruas jalan Jantho - Lamno sebanyak 2 ruas, lintas Perlak - Lokop - Blang Kejeren 3 ruas, Blang Kejeren - Babahrot 2 ruas, Trumon - Bulusuma Singkil 2 ruas, Pondok Baru - Samarkilang 1 ruas, Nasereuhe - Lewak - Sibigo 1 ruas, dan jalan baru Batas Aceh Timur - Karang Baru Aceh Tamiang 1 ruas.

Pembangunan lanjutan ini akan dimulai dengan mengembalikan jalur yang putus tadi, yakni jalur Jantho-Keumala dan Geumpang Pameu. “Kehadiran ruas jalan ini pastinya akan memuluskan konektifitas antar daerah di Aceh sehingga memudahkan mobilisasi orang dan barang, dan pastinya akan meningkatkan nilai perekonomian daerah,” jelasnya.

Kenapa pembangunan ruas missing link ini menjadi penting, sebut Iskandar, ini dikarenakan Aceh sudah sangat mendesak dalam hal ketahanan pangan, peningkatan kesehatan masyarakat, akses masyarakat terhadap rumah layak, serta pembinaan dan peningkatan sumber daya manusia.

Untuk mendukung program itu, diperlukan peningkatkan konektivitas jaringan jalan dan menurunkan indeks ketimpangan wilayah, di mana Aceh sangat mendukung Pemerintah Pusat dalam pembangunan infrastruktur jalan jembatan. Antara lain, penuntasan ruas jalan Geumpang - Pameu dan ruas jalan Jantho-Keumala, peningkatan jalan kondisi tanah ruas Pameu-Genting Gerbang (10,4 km), yang bersumber dari dana APBN.

“Selain jalan, jembatan dan insfratruktur lain, peningkatan akses masyarakat terhadap hunian layak, aman, dan terjangkau dalam rangka mewujudkan kota tanpa permukiman kumuh merupakan juga menjadi harapan Pemerintah Aceh dengan dukungan pusat,” ujar Iskandar.

Pembangunan sejumlah ruas jalan ini, diharapkan mampu memberikan dampak dan bermanfaat kepada masyarakat, khususnya bagi peningkatan perekonomian masyarakat. "Akses jalan dapat memberikan kelancaran dalam angkutan orang, barang dan berbagai hasil pertanian serta industri hingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat," ujarnya.

Program-program yang dijalankan Pemerintah Aceh juga akan sesuai dengan program prioritas nasional tahun 2020. Sehingga program yang telah dilaksanakan dan juga program-program pembangunan infrastruktur yang akan dilaksanakan di setiap kawasan mampu memberikan manfaat luas bagi masyarakat.(Yayan)