Mengintip Angka Pertumbuhan Ekonomi Aceh 2020

“Pertumbuhan ekonomi Aceh 2019 diperkirakan bias ke bawah, seiring dengan melemahnya harga komoditas dan belum otimalnya realisasi anggaran pemerintah. Namun demikian, investasi yang meningkat dapat menahan perlambatan yang terjadi lebih dalam.”

      -- Zainal Arifin Lubis --

Kepala Bank Indonesia Cabang Banda Aceh

 

 

 

 

Pertumbuhan ekonomi dunia mengalami perlambatan tahun 2019, baik itu di negara maju maupun negara berkembang. Sejalan dengan hal tersebut, ekonomi Indonesia pun terkena dampak perlambatan, termasuk Aceh, di mana angka pertumbuhan ekonomi jauh di bawah angka nasional, bahkan angka di Sumatera.

Secara umum pertumbuhan angka ekonomi Aceh berfluktuasi, untuk tahun 2019 berada di bawah angka 4%. Sedangkan inflasi Aceh masih dalam rentang angka sasaran inflasi nasional, yakni 2,51%.

Kepala Bank Indonesia Cabang Banda Aceh, Zainal Arifin Lubis, menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi Provinsi Aceh pada tahun 2019 dibayangi berbagai macam risiko perlambatan. Hal tersebut sejalan dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi yang terjadi di dunia, nasional, dan Sumatera.

Meski terdapat peningkatan investasi swasta, namun demikian pertumbuhan ekonomi Aceh tahun 2019 dibayangi risiko bias ke bawah yang utamanya disebabkan perlambatan komponen konsumsi rumah tangga dan konsumsi pemerintah.

“Pertumbuhan ekonomi Aceh 2019 diperkirakan bias ke bawah, seiring dengan melemahnya harga komoditas dan belum otimalnya realisasi anggaran pemerintah. Namun demikian, investasi yang meningkat dapat menahan perlambatan yang terjadi lebih dalam,” kata Zainal Arifin Lubis saat mengisi for Aceh Economic Summit, awal Desember 2019 lalu.

Sejalan dengan outlook perekonomian dunia dan nasional yang membaik di tahun 2020, proyeksi pertumbuhan ekonomi Aceh pun meningkat menjadi 4,83%-5,23%(ctc). Hal tersebut seiring dengan adanya berbagai faktor pendorong ekonomi.

Pertumbuhan ekonomi Aceh pada tahun 2020 diperkirakan meningkat dibanding 2019. Dari sisi pengeluaran, peningkatan tersebut utamanya didorong oleh akselerasi konsumsi rumah tangga, pemerintah, dan ekspor luar negeri.

Pertumbuhan ekonomi Aceh pada tahun 2020 diperkirakan meningkat dibanding 2019. Dari sisi lapangan usaha, peningkatan tersebut utamanya didorong oleh akselerasi lapangan usaha pertanian, konstruksi, dan pertambangan.

Hal lain yang bisa mendorong peningkatan angka pertumbuhan ekonomi Aceh adalah dunia usaha. Dunia usaha berbasis digital diyakini bisa mempertahankan kondisi ekonomi dikalngan masyarakat.

“Satu di antaranya adalah dunia usaha UMKM. Perkembangan UMKM yang baik yang didukung oleh pemerintah akan menjadi sumber ekonomi baru untuk peningkatan pertumbuhan angka ekonomi di Aceh, apalagi jika dikaitkan dengan konfisi geografis Aceh yang berada di bagian ujung Indonesia,” ungkap Zainal Arifin.

Pengalaman krisis Indonesia, sebutnya, bahwa Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), merupakan tulang punggung ekonomi negara Indonesia. Pasca ambruk saat krisis ekonomi melanda, maka kebangkitan segera dirasakan tak lain karena kehadiran UMKM. Begitu pula halnya di Aceh, jika  UMKM  semakin menggeliat pertumbuhan perekonomian dan stabil, sehingga angka inflasi bisa ditekan.

Tahun 2020 Inflasi Aceh diperkirakan lebih tinggi dari tahun sebelumnya, terutama didorong oleh inflasi komoditas AP yang dipengaruhi oleh kebijakan harga dari pemerintah. Apalagi, saat ini, pemerintah juga menprediksikan adanya 'winter' ekonomi, akibat pertumbuhan ekonomi global, sehingga mempengaruhi perekonomian Indonesia, dan berdampak pada persaingan perdagangan ke luar negeri.

“Namun, penggunaan teknologi digitalisasi dan diperkuat dengan data, maka hal ini bisa memperkuat ekonomi di Aceh, yang penting juga harus fokus pada keunikan dan keunggulan yang dimiliki Aceh,” tegas Zainal Arifin.(Yayan)