Optimalkan Generasi Millenial Sebagai Duta Wisata

“Dinas Kebudayaan dan Pariwisata juga terus melakukan upaya pembangunan, pengembangan, pemanfaatan, dan promosi objek wisata, termasuk memanfaatkan generasi millenial pada masa industri 4.0 ini sebagai duta dan influencer melalui media digital atau media sosial.”

 

                          -- Zulkifli --

Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh

 

 

Pariwisata merupakan sektor pembangunan yang memberi dampak cukup luas terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. Dampak multipler efeknya terhadap penciptaan lapangan kerja, tumbuhnya sektor jasa dan produksi, berkontribusi langsung pada kemajuan daerah. Sejalan dengan arah perekonomian Aceh yang ditujukan untuk mencapai kemakmuran dan kesejahteraan rakyat, maka pembangunan sektor pariwisata juga ditargetkan dapat memberikan kontribusi yang semakin baik terhadap PDRB.

Tahun 2018, pertumbuhan ekonomi Aceh berada berada pada level 4,61 persen, meningkat 42 basis point dibanding dari tahun 2017 yang sebesar 4,19 persen. Pergerakan angka ini dalam 2 tahun menggambarkan trend yang semakin membaik, terutama sumbangan dari migas yang mulai eksplorasi di Aceh Timur dan Tamiang, serta sumbangan batu bara dari Kabupaten Aceh Barat.

Di sisi lain, Aceh dengan potensi alamnya juga berpeluang sebagai penyumbang kekuatan ekonomi di sektor pariwisata. Ditargetkan pada tahun 2020 kontribusi pariwisata terhadap PDRB sebesar 3,25 persen yang dicapai melalui program pengembangan pemasaran, pengembangan destinasi, dan pengembangan kemitraan.

Untuk mencapai pengembangan ekonomi daerah dengan dukungan sektor pariwisata yang memberi kontribusi signifikan pada pembangunan, ada sejumlah target yang akan dilakukan Disbudpar Aceh di tahun 2020.

Kepala Dinas kebudayaan dan Pariwisata Aceh melalui Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Zulkifli kepada tim Tabangun Aceh menjelaskan, Aceh memiliki lebih dari 900 objek wisata, termasuk di dalamnya wisata alam, budaya dan minat khusus/ buatan yang tersebar di 23 kabupaten/kota. Potensi tersebut telah menarik wisatawan lokal, nasional maupun mancanegara.

Berdasarkan data dalam beberapa tahun terakhir, angka kunjungan wisatawan nusantara dan mancanegara ke Aceh terus menunjukkan trend yang meningkat. Rata-rata peningkatan melebihi 20 persen per tahun yaitu dari 1,12 juta wisatawan pada tahun 2013 menjadi 2,5 juta orang pada tahun 2018 yang lalu.

Dengan melihat potensi dan kecenderungan kunjungan wisatawan ke Aceh yang begitu besar, maka sektor pariwisata sangat potensial untuk dijadikan sebagai core economy Aceh di masa yang akan datang. Zulkifli mengatakan, meski kontribusi sektor pariwisata terhadap perekonomian daerah Aceh masih menempati posisi kedelapan, namun dengan beberapa sentuhan kebijakan dan intervensi kegiatan yang inovatif dan fokus, sektor ini akan mampu meningkatkan kontribusinya terhadap perekonomian Aceh secara keseluruhan.

Pemerintah Aceh melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata juga terus melakukan koordinasi dan kolaborasi dengan berbagai stakeholders pariwisata baik lokal, nasional, maupun internasional. Hal ini dilakukan dalam upaya pembangunan, pengembangan, pemanfaatan, dan promosi objek wisata, termasuk memanfaatkan generasi millenial pada masa industri 4.0 ini sebagai duta dan influencer melalui media digital atau media sosial. Semua ini dilakukan dalam rangka menggaet wisatawan berkunjung ke Aceh.

Namun di sisi lain, disadari bahwa untuk meningkatkan kontribusi sektor pariwisata terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. Bukan saja pada peningkatan jumlah kunjungan wisatawan, tapi yang yang lebih penting adalah bagaimana kita mampu mendorong para wisatawan untuk meningkatkan spending-nya selama mereka berada di Aceh.

Menurut Zulkifli, wisatawan yang banyak tanpa diikuti oleh kesediaan membelanjakan uangnya di Aceh tidak akan memberi efek yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu, Dinas Kebudayaaan dan Pariwisata Aceh pada tahun 2020 mendatang, selain fokus membangun dan menata objek-objek wisata unggulan, juga menggencarkan promosi pariwisata.

Kegiatan ini dilakukan pada event nasional maupun internasional terutama yang sudah menjadi agenda dalam Calender of Event (CoE), termasuk memperkuat Branding Wisata Halal dan memperbanyak atraksi budaya. Hal lain yang juga menjadi agenda adalah menciptakan kenyamanan wisatawan melalui ketersediaan amenitas, serta fokus melaksanakan pembinaan, peningkatan sumber daya manusia pariwisata, fasilitasi dan pengembangan usaha pariwisata dalam rangka memacu produktifitas pelaku usaha pariwisata dan diversifikasi produk yang dapat meningkatkan daya tarik wisatawan untuk berbelanja baik berupa kuliner, cenderamata dan kerajinan tangan/souvenir.

Melalui fokus kegiatan pada pengembangan ekonomi kepariwisataan ini diharapkan para wisatawan yang datang ke Aceh tidak saja menambah lama kunjungannya tetapi juga dapat meningkatkan spending mereka sehingga velocity of money dalam masyarakat Aceh akan semakin meningkat yang akhirnya akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi daerah.(Cut Nurmarita)