Bappeda Diseminasikan Hasil Analisa Skenario Business As Usual (BAU) Rencana Pertumbuhan Ekonomi

Rabu 22 Juli 2020 bertempar di Aula Kantor Bappeda Aceh, Bapak Ir. Helvizar, M.Si selaku Kepala Bappeda Aceh membuka “Konsultasi Publik” Diseminasi Hasil Analisa (Sementara) Skenario Business As Usual (BAU) Rencana Pertumbuhan Ekonomi Hijau (GGP) Aceh. Acara ini juga dilakukan menggunakan pola offline untuk para pihak di Aceh yang dilakukan secara terbatas dengan standar protocol yang telah ditetapkan oleh pemerintah  dan secara daring yang diikuti oleh beberapa unsur yang lain, baik unsur pemerintah maupun non-pemerintah seperti YIDH, ICRAF Indonesia, HaKA, YEL, Unsur Akademisi Unsyiah dan sektor swasta di Aceh, dan beberapa lembaga lain yang secara aktif berkiprah dalam pembangunan di Aceh. Dari berbagai nara sumber yang ada diharapkan akan menyampaikan tanggapan dan masukan terhadap skenario dan analisis ex-ante terhadap dampak ekonomi, sosial dan lingkungan yang diproyeksikan hingga 30 tahun mendatang sebagai landasan mengidentifikasi strategi dan target dari Pertumbuhan Ekonomi Hijau.

Kepala Bappeda Aceh, Ir. Helvizar, M.Si menyatakan “Dengan dirilisnya Keputusan Pembentukan kelompok kerja Pertumbuhan Ekonomi Hijau Aceh 2020, penyusunan ‘Grand Design’ berbasis Komoditas  Aceh, pengelolaan perlindungan ekosistem, keanekaragaman hayati & pembangunan berkelanjutan segera dilakukan”. Dalam hal ini membangun erat kemitraan dengan para pemangku kepentingan dalam upaya pembangunan Pertumbuhan Ekonomi Hijau sedang dan dalam proses pengembangan Masterplan dan Roadmap Rencana Pertumbuhan Ekonomi Hijau, agar percepatan perencanaan dan implementasi pertumbuhan ekonomi hijau dalam rangka mendukung program “Aceh Green” segera terlaksana.

Dalam acara konsultasi publik ini disampaikan topik-topik mengenai Rencana, Kebijakan, dan Strategi Ekonomi Hijau dalam Pembangunan di Aceh, Ruang Lingkup, Proses dan Hasil Sementara Penyusunan Rencana Pertumbuhan Ekonomi Hijau Aceh,Skenario Pembangunan Aceh saat ini dan Proyeksinya dimasa yang akan datang (Skenario Business as Usual),dan Strategi Pembangunan Aceh menuju Pertumbuhan Ekonomi Hijau Aceh. Harapannya dengan berdiskusi akan diperoleh saran dari hasil skenario BAU penyusunan GGP dari para pemangku kepentingan di Aceh. Diantaranya mengenai lingkup, materi, sumber informasi, dan kinerja indikator yang diukur. Sehingga akan diperoleh Skenario BAU yang komprehensif dan dapat menterjemahkan seluruh kondisi dan rencana pembangunan Aceh saat ini untuk mendapatkan gambaran kondisi dimasa yang akan datang.

Dilanjutkan Ir. Helvizar, M.Si “Rencana induk (masterplan) dan peta jalan yang telah difinalkan akan diarusutamakan ke dalam proses perencanaan, kebijakan, serta proses M&E yang ada”. Kerja sama akan dilakukan didalam kelompok kerja untuk penilaian komparatif lebih lanjut antara skenario BSB dan skenario rencana pertumbuhan ekonomi hijau akan dilakukan untuk mengidentifikasi kesenjangan kebijakan dan faktor-faktor pendukung yang direkomendasikan. Hasil dari Masterplan Pertumbuhan ekonomi Hijau dan Peta Jalan akan disebarluaskan melalui lokakarya akhir dengan para pihak.

Pemerintah  Aceh mempunyai inisiatif dan komitmen yang tinggi dalam Program Pembangunan Berkelanjutan, dimana sejalan dengan pesatnya pembangunan yang dilaksanakan untuk kesejahteraan rakyat dengan tetap menjaga dan melindungi ekosistem, keanekaragaman hayati dan pemeliharaan lingkungan. Ditutup Ir. Helvizar, M.Si “Hal ini selaras dengan berbagai upaya pembangunan termasuk upaya untuk mencapai Aceh Green, yang mencakup upaya untuk meningkatkan produksi sektor pertanian, perkebuann, perikanan-kelautan dan kehutanan dengan tetap melindungi dan memulihkan hutan serta lahan gambut melalui penguatan kemitraan antara sektor swasta, pemerhati konservasi serta masyarakat sipil yang tujuan akhirnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat Aceh”. (Farid Reza)